Vape atau rokok elektrik semakin populer di kalangan anak muda dalam beberapa tahun terakhir. Banyak yang menganggapnya sebagai alternatif merokok yang lebih “ringan”, bahkan ada yang melihatnya sebagai gaya hidup baru. Namun, kalau kita perhatikan lebih dalam, tren ini tidak hanya soal gaya atau rasa-rasa unik, tetapi juga menyangkut persepsi, pengaruh lingkungan, hingga faktor kesehatan. Karena itu, artikel ini akan membahas tren-tren vape yang sedang ramai di kalangan anak muda, sambil melihat like and dislike terkait dampaknya, terutama bagi kesehatan mereka.
1. Vape Sebagai Bagian dari Gaya Hidup Modern
Salah satu pendorong terbesar Tren Penggunaan Vape di generasi muda adalah anggapan bahwa vape terlihat lebih modern dan stylish. Banyak anak muda yang merasa menggunakan vape membuat mereka terlihat lebih kekinian, apalagi dengan desain perangkat yang ramping dan futuristik.
Tidak sedikit pula yang menjadikan vape sebagai aksesori tambahan, hampir seperti fashion item. Misalnya memilih warna perangkat yang cocok dengan outfit mereka atau menjadikan cloud vapor yang besar sebagai atraksi. Fenomena ini akhirnya membuat vape bukan cuma produk nikotin, tapi juga bagian dari lifestyle culture.
2. Munculnya Beragam Rasa yang Menarik dan Kreatif
Varian rasa menjadi salah satu alasan kuat kenapa vape begitu disukai anak muda. Ada rasa fruity, creamy, minty, hingga rasa-rasa unik seperti cereal, teh susu, bubble gum, atau dessert manis.
Inilah yang membuat Tren Penggunaan Vape makin tumbuh. Banyak anak muda penasaran mencoba rasa baru setiap bulan karena produsen liquid rajin merilis seri terbaru. Rasa-rasa ini terasa lebih bersahabat dibanding rasa tembakau tradisional yang dianggap terlalu “dewasa” dan tajam.
Namun, di balik itu, beberapa ahli kesehatan menilai rasa-rasa manis ini justru menjadi daya tarik yang membuat remaja mulai mencoba vape sejak usia dini, sehingga perlu ada kontrol dan edukasi yang lebih kuat.
3. Pengaruh Teman Sebaya dan Lingkungan Sosial
Tak bisa dipungkiri, teman sebaya punya peran besar dalam naiknya Tren Penggunaan Vape. Sering kali anak muda mulai mencoba vape bukan karena ingin, tapi karena “teman-teman lain juga nyobain”.
Ketika satu orang bawa vape ke tongkrongan, biasanya yang lain ikut mencoba. Lama-lama jadi kebiasaan. Vape juga sering dianggap sebagai aktivitas yang bisa menyatukan pergaulan, seperti saling tukar rasa atau membahas rekomendasi liquid terbaru.
Yang perlu di perhatikan, lingkungan yang permisif bisa mengaburkan fakta bahwa vape tetap mengandung nikotin, dan itu bisa menyebabkan ketergantungan jika di gunakan berlebihan.
Baca Juga: Pemanfaatan Serat Tembakau Inovasi Berkelanjutan
4. Konten Vape di Media Sosial yang Menarik Perhatian
Media sosial juga mendorong Tren Penggunaan Vape berkembang pesat. Banyak anak muda melihat konten vape tricks seperti “ghost inhale”, “tornado”, atau “dragon breath” yang tampak keren. Konten-konten ini membuat vape terlihat fun dan artistik.
Bahkan beberapa influencer membuat review liquid atau perangkat baru, sehingga Followers yang masih muda semakin penasaran untuk mencoba. Ini menunjukkan betapa kuatnya efek visual dan tren digital dalam membentuk kebiasaan konsumsi anak muda.
Namun, perlu di ingat bahwa konten yang terlihat keren di media sosial tidak selalu menggambarkan risiko kesehatan yang sebenarnya.
5. Anggapan bahwa Vape Lebih Aman daripada Rokok
Banyak anak muda percaya bahwa vape lebih aman di banding rokok konvensional. Kepercayaan ini muncul karena vape tidak menghasilkan asap tembakau, melainkan uap.
Walaupun benar bahwa uap vape memiliki kandungan berbeda dari asap rokok, bukan berarti vape sepenuhnya aman. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan jangka panjang tetap berpotensi mengganggu kesehatan paru-paru. Ada juga risiko ketergantungan nikotin, terutama jika menggunakan liquid berkadar tinggi.
Karena itu, penting untuk memahami bahwa perbandingan “lebih aman dari rokok” bukan berarti “tidak berbahaya sama sekali”.
6. BONUS: Promosi Bonus New Member yang Ikut Mendorong Tren
Fenomena menarik lainnya yang secara tidak langsung ikut memengaruhi Tren Penggunaan Vape adalah banyaknya toko vape—baik online maupun offline—yang memberi promosi seperti bonus new member, potongan harga, atau paket liquid gratis untuk pengguna baru. Promosi semacam ini membuat anak muda semakin mudah mencoba vape tanpa biaya besar di awal. Walaupun terlihat menguntungkan, promo seperti ini sebenarnya ikut memperkuat konsumsi impulsif, terutama bagi remaja yang masih mudah terpengaruh tren diskon atau reward membership.
7. Dampak Penggunaan Vape bagi Kesehatan Anak Muda
Meski tren vape terus berkembang, kita tetap perlu membahas dampaknya bagi kesehatan. Tidak bisa di pungkiri, vape mengandung nikotin (kecuali jenis zero nicotine), dan nikotin bersifat adiktif. Anak muda yang terbiasa menggunakan vape bisa berisiko mengalami ketergantungan.
Beberapa potensi dampak jangka panjang antara lain:
-
Gangguan pada paru-paru, karena paparan partikel kimia tertentu.
-
Iritasi tenggorokan dan batuk, terutama pada pengguna yang sering melakukan sesi vaping panjang.
-
Penurunan stamina pernapasan, karena nikotin memiliki efek stimulasi yang dapat memengaruhi fungsi kardiovaskular.
-
Ketergantungan nikotin, yang membuat pengguna sulit berhenti.
Walaupun vape sering di sebut lebih ringan dibanding rokok konvensional, anak muda tetap perlu memahami bahwa “lebih ringan” bukan berarti “aman sepenuhnya”. Edukasi dan kesadaran akan risiko kesehatan tetap sangat penting.
8. Peran Edukasi dan Kesadaran di Kalangan Anak Muda
Sebagai bagian dari perkembangan gaya hidup, vape memang sulit di pisahkan dari kehidupan anak muda masa kini. Namun, edukasi tetap harus berjalan beriringan agar mereka mampu menggunakan vape secara lebih bertanggung jawab.
Sekolah, keluarga, dan komunitas perlu memberikan informasi yang netral namun realistis, bukan sekadar melarang atau menghakimi. Ketika anak muda memahami risiko dan batasan, mereka cenderung lebih bijak dalam menentukan pilihan.
Tinggalkan Balasan